LSO FPED
Universitas Muhammadiyah Malang
LSO FPED
Universitas Muhammadiyah Malang

Tetrakromatik, Kemampuan Melihat 100 Juta Warna

Author : Administrator | Selasa, 21 April 2015 09:50 WIB
 

Antico memiliki kondisi genetik langka dimana ia dapat melihat hampir 100 juta warna.


Tetrakromatik, Kemampuan Melihat 100 Juta Warna
Ilustrasi (Thinkstock)

Bagi Concetta Antico, langit malam tampak berwarna safir dan violet. Sebuah mawar merah muda terlihat berwarna emas dan biru langit, sedangkan jalur bebatuan tampak seperti pelangi warna oranye, kuning, hijau, biru, dan merah pucat.

Antico memiliki "penglihatan super" atau tetrakromatik, suatu kondisi genetik langka yang membuat dia dapat melihat hampir 100 juta warna. Penglihatannya terbilang luar biasa bila dibandingkan dengan mata normal yang hanya mampu melihat sekitar 1 juta warna.

Penglihatan super sebenarnya bukan hal aneh pada hewan. Beberapa spesies burung memilih pasangannya berdasarkan perbedaan warna tipis pada bulunya, sementara serangga mampu melihat panjang gelombang warna yang tecermin dari bunga. Diperkirakan, kondisi ini hanya dapat memengaruhi 1 persen manusia.

"Saya melihat corak yang lebih bernuansa dan banyak warna pada penerangan redup," papar Antico.

"Jika saya dan Anda melihat daun, saya mungkin melihat warna magenta di pinggiran daun tersebut atau warna toska di beberapa bagian ketika Anda hanya melihatnya sebagai warna hijau gelap. Ketika lampu membuat bayangan di dinding, saya melihat warna violet, lavender, dan toska. Anda mungkin hanya melihat warna abu-abu," ungkapnya.

Pendeknya, Antico melihat dunia dalam bentuk yang berbeda dengan kebanyakan orang. Ketika masih kecil, wanita yang tinggal di Australia ini tahu bahwa ia memiliki sudut pandang yang unik. Di usia 7 tahun, ia melukis ulang karya-karya ciptaan Cezanne, Van Gogh, dan Monet dengan cat minyak. 

Saat ini, ia bekerja sebagai pelukis dan instruktur seni di San Diego, tempat ia menetap bersama suaminya, Jason Pizzinat. Warna yang ia lihat pada flora dan fauna di selatan California membuat palet warnanya lebih luas.

Antico secara sukarela bersedia menjadi relawan untuk studi ilmiah, berharap bahwa penelitian pada dirinya dapat memberikan pemahaman lebih baik terhadap buta warna, yang memengaruhi penglihatan putrinya yang berusia 12 tahun. 

Namun, putranya tidak ada yang mengalami mutasi ini. Buta warna dapat disebabkan oleh mutasi genetik serupa, seperti tetrachromacy. "Saya ingin semua orang sadar betapa indahnya dunia ini," imbuhnya.

Meskipun Antico mengalami peningkatan pengalaman visualnya, ada kelemahan dari kemampuan ini, yaitu sensornya menjadi berlebih.

"Ketika bangun, saya menatap ke luar jendela sebentar karena saya melihat semua warna di luar ruangan. Saya melihat semua warna di lantai kayu ketika berjalan menuju kamar mandi. Saya menyadari semua warna di pasta gigi. Saat menuruni tangga, semangkuk buah pun tampak sangat berwarna-warni," ucapnya.

Toko atau swalayan pun seolah menjadi "mimpi buruk" bagi Antico. Di sana, barang-barang, baik sayur, buah, maupun produk lainnya tampak sangat berwarna baginya.

"Itu seperti serangan oleh warna," katanya. Karenanya, Antico mengungkapkan bahwa warna favoritnya adalah putih. "(Putih) Itu sangat menenangkan dan damai bagi mata saya."

Sumber : http://nationalgeographic.co.id

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image